Isu Sustainability dalam Pengadaan Barang/Jasa

30 Mar

Satu langkah adalah bagian utuh dari ribuan langkah yang membangun jarak. Tidak akan ada Indonesia yang besar seperti saat ini apabila tidak ada keinginan kecil pendahulu kita tentang sebuah bangsa yang merdeka, maju dan sejahtera.

Dalam berbagai diskusi tentang ‘sustainability‘, kesinambungan, keberlanjutan atau keberlangsungan dapat disimpulkan bahwa perlu ‘langkah strategis’ untuk mencapai nilai sustainability.

Langkah strategis merujuk pada rangkaian tindakan yang terukur dan goals yang 99% bisa dijelaskan dengan baik. Maka dalam cerita tentang rangkaian tindakan, langkah demi langkah memiliki value yang sama pentingnya, sama besar perannya dalam mencapai goals tersebut.

Pun juga dalam wilayah pengadaan barang/jasa, tema besar sustainability menjadi salah satu dari 12 kebijakan dalam Perpres 54 tahun 2010. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Isu-isu lingkungan mengemuka karena kita tersadar ternyata telah berada dalam kerentanan alam yang tinggi. Climate change, efek rumah kaca, kerusakan hutan dan lain sebagainya. Meski dalam kerangka sustainability, lingkungan bukan satu-satunya isu, ada juga isu tentang sosial, ekonomi, ketenagakerjaan, Corporate Social Responsibility (CSR), transportasi dan logistik dan lainnya.

Dalam procurement best practice keterlibatan isu sustainability ini salah satu contohnya seperti tertuang dalam artikel “Pengadaan Kertas itu Strategis“. Kertas meskipun kecil kelihatannya, karena digunakan oleh sebagian besar umat manusia di bumi ini, maka dampak strategisnya sangat besar bagi lingkungan. Bahaya laten dan masif seperti inilah yang harusnya menjadi concern bersama dalam pengadaan barang/jasa, terkhusus disektor publik.

Sustainability Procurement adalah pengadaan barang/jasa yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa harus mengorbankan kemampuan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhannya.

Pareto dengan teori 80:20-nya akan sangat membantu dalam menyusun langkah strategis dalam pengadaan barang/jasa. Karena pada umumnya 20% dari seluruh jumlah paket pekerjaan mewakili penggunaan 80% anggaran untuk pengadaan. Sedangkan 80% paket pekerjaan sisanya menyerap 20% dana. Dengan logika ini maka sebenarnya hanya 20% paket pekerjaan saja yang benar-benar harus ditangani secara detil sementara 80% sisanya dapat didekati dengan pendekatan yang sederhana, standar dan rutin. Bahkan porsi 80% ini dapat di-efisien-kan melalui consolidated procurement seperti framework agreement atau umbrella contract (lihat artikel: Consolidated Procurement dan Framework Agreement)

Dalam kuadran krajilc box
porsi 80% barang/jasa berada dalam box leverage dan routine. Klasifikasi ini memudahkan langkah strategis pengadaan terutama dalam mencapai nilai sustainability. Meski nilai dananya kecil secara short term namun barang leverage dan routine mempunyai dampak jangka panjang yang masif bagi lingkungan dimasa datang.

Contoh barang/jasa di area ini yang perlu menjadi fokus sustainability seperti:

  1. Cetakan atau print services; material kertas, tinta dan finishing (penjilidan dan coating).
  2. Peralatan teknologi informasi; desktop, laptop dan monitor.
  3. Cleaning Services; peralatan dan bahan, tenaga kerja dan proses.
  4. Mesin dan peralatan usaha; material, pabrikasi, desain produk, pengemasan dan transportasi.
  5. Meubeler atau furniture kantor; material, pabrikasi, pengemasan, transportasi, operasional dan disposal.
  6. Catering Services atau jasa layanan makanan secara umum; produksi, bahan, kemasan, kesehatan dan tenaga kerja.

Kemudian untuk barang/jasa bottleneck dan critical strategic, meski hanya 20% dari jumlah paket yang ada, namun karena serapan dana yang relatif besar maka fokus sustainability akan sangat detil dalam proses pengadaannya.

Untuk pekerjaan konstruksi misalnya, sangat penting memperhatikan strategi menghindari inefisiensi alat dan bahan. Meminimalisasi dampak lingkungan yang diakibatkan dari barang dan jasa terkait total cost of ownership (TCOO). Perhatian lebih dalam manajemen ketenagakerjaan. Kemudian bagaimana memperbesar value for money (VFM) dalam siklus manfaat bangunan tidak hanya tentang biaya membangunnya saja.

Secara ringkas untuk barang/jasa bottleneck dan critical strategic seluruh area yang potensial untuk menerapkan nilai sustainability harus betul-betul menjadi perhatian, terutama dalam proses evaluasi penyedia dan barang/jasa. Seluruh faktor akan menjadi add value, seperti manajemen pengelolaan lingkungan, ketenagakerjaan, CSR, Green House Gas (GHG) emissions, komitmen penyedia terhadap sustainability, transportasi, logistik dan penggunaan produk ramah lingkungan.

Pilihan strategi juga penting dalam menyusun kebijakan implementatif yang dituangkan dalam panduan standar pengadaan barang/jasa. Jangan mudah terjebak pada jargon yang dapat saja menyesatkan. Ingat perkembangan ilmu pengetahuan terus bergerak maju. Sehingga penting selalu meng-update teknologi dalam penerapan nilai sustainability.

Masih ingat perdebatan tentang paperless? Saat diajukan pertanyaan tentang mana yang lebih ramah lingkungan antara digital paper dengan print paper? Sebagian besar dari kita pasti akan memilih digital paper. Alasannya digital paper akan menghemat kertas yang juga akan mengurangi penebangan pohon dan baik bagi konservasi hutan.

Pemikiran ini ternyata tidak sepenuhnya benar. The Stern Review on the Economics of Climate Change yang dipublikasikan oleh pemerintah Inggris pada tahun 2006 berkata lain. Dalam laporan setebal 700 halaman tersebut menunjukkan bahwa digital paper justru potensial menyebabkan efek rumah kaca atau carbon impact yang lebih tinggi daripada print paper.

Print paper dari seluruh proses produksi sampai produk akhir menghasilkan 85 gram CO2. Sedangkan digital paper menunjukkan bahwa setiap jam dokumen yang sama dengan print paper diakses oleh pembaca melalui komputer menghasilkan 226 gram CO2.

Hal ini tentu harus menjadi pertimbangan, karena tingkat kerusakan akibat efek rumah kaca dan kerusakan hutan, sama-sama berdampak buruk bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Perlu diambil alternatif kebijakan yang tepat dari banyak sisi. Memang tidak akan sesederhana tampaknya namun ini pilihan satu-satunya agar bumi kita layak huni bagi anak cucu kita.

About these ads

2 Tanggapan to “Isu Sustainability dalam Pengadaan Barang/Jasa”

  1. wiwikbudiawan April 30, 2012 at 4:57 am #

    Menarik Pak paparannya, terimakasih atas share ilmunya…

    memang isu sustainability sayang booming di lapangan, tetapi analisis implementasinya yang kurang dilakukan, sehingga bukan mengurangi climate change tapi malah mempercepat…ada baiknya kita sedikit banyak melakukan controlling… :)

  2. samsulramli April 30, 2012 at 8:52 am #

    Betul Pak Wiwik kita sering terjebak pada jargon taktis tapi jarang menganalisa, mengevaluasi dan mengendalikan strategi… sehingga hal yang mestinya strategis jangka panjang hanya menjadi taktis jangka pendek yang valuenya rendah.. terimakasih telah berkunjung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.294 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: