Tawar Menawar ala Eropa versus Kita

1 Jul

Perjalanan kesalah satu negara eropa tepatnya Italia, beberapa waktu yang lalu, memberikan banyak kesan dibenak saya. Salah satunya tentang procurement atau pengadaan. Yang sangat khas dalam nature transaksi perdagangan masyarakat Eropa adalah tentang transaksi. Pola tawar menawar bahkan ditingkat kelontongan orientasinya adalah pada kuantitas bukan pada harga. Setiap kali menawar satu barang maka harga satuan akan sangat sulit berubah, terlebih kalau hanya membeli satu unit barang. Menariknya begitu kuantitas bertambah barulah harga melunak, bahkan bisa saja turun sangat signifikan.

Berbeda dengan di tempat kita, Indonesia, harga benar-benar menjadi raja. Lihat saja transaksi pasar tradisional, pedagang sengaja menawarkan harga yang tinggi sejak awal dengan harapan dapat meraih keuntungan besar. Ketika negosiasi dimana pembeli sampai pada titik jenuh, barulah harga turun secara bertahap ketingkat rasional bahkan tidak jarang turun signifikan mendekati harga pokok.

Ini adalah satu pertanda bahwa artikel Pembangunan Terjebak Harga nyata mendekati kebenaran. Orientasi pada harga telah mendarah daging dalam kultur trading bangsa hingga strata terendah. Ataukah memang ini sudah menjadi kultur sejak dahulu hingga menjadi tradisi dalam menyusun kebijakan dan pelaksanaan pembangunan. Pun juga dengan urusan pengadaan barang/jasa pemerintah.

Dalam materi Essential Procurement yang diajarkan dalam training ISP3 (Indonesian Strengthening Public Procurement Program) kerjasama LKPP dengan Ausaid, harga merupakan unsur terakhir dalam struktur pembentuk cost atau biaya. Alasannya public procurement orientasinya bukanlah soal profit, melainkan nilai dari setiap rupiah yang dibelanjakan atau value for money (VFM).

Dalam formulasi VFM secara runtut komponen penyusunnya adalah tercapainya 5 hal yaitu kualitas, kuantitas, tempat, waktu baru terakhir harga. Akan menarik kalau kemudian dihubungkan dengan prinsip pengadaan yang dianut oleh Perpres 54/2010. Salah duanya yaitu prinsip efisien dan efektif yang mewakili pencapaian. Kalau boleh disederhanakan efisien dan efektif sebenarnya adalah bahasa lain dari upaya pencapaian VFM.

Efisien sering dilekatkan dengan hemat. Konteksnya dengan komponen VFM menjadi hemat jumlah, hemat waktu, hemat tempat, hemat harga. Sedangkan kualitas dikaitkan dengan efektif yang lekat dengan istilah tepat. Tepat kualitas, tepat kuantitas, tepat waktu, tepat tempat dan tepat harga. Jadi jelas prinsip efisien dan efektif tidak dapat dilepaskan dalam upaya mencapai VFM.

Bagaimana dengan prinsip lainnya? Tentu tidak lepas juga dari VFM karena pengadaan barang/jasa disisi Supply Chain Management (SCM) adalah bagaimana mengelola kompetisi untuk mencapai VFM. Jadi prinsip transparan, terbuka, bersaing, adil/tidak diskriminatif dan akuntabel muaranya untuk meraih efisiensi dan efektifitas output.\

Oke, kembali kepada perbedaan kultur tawar menawar masyarakat Eropa dan Indonesia yang dibahas dialenia awal. Mainstream kuantitas versus harga. Mengapa ini penting untuk dibahas? Jawabannya adalah apabila komponen pencapaian VFM diumpamakan sebuah hirarki budaya maka mainstream kuantitas jauh lebih tinggi peradabannya dibanding mainstream harga. Kuantitas berada dalam area strategis sedangkan harga berada dalam area taktis.

Dalam SCM supplier yang baik akan cenderung berpikir jangka panjang atau strategis. Semakin cepat perputaran produk, bagi supplier, akan menekan biaya seperti untuk inventory/stock, biaya overhead gudang dan lainnya. Sangat beralasan kalau kemudian kuantitas barang yang terjual jauh lebih berarti dibanding berapa besar profit satuan barang yang didapat.

Kerangka inilah yang harusnya dapat ditangkap dalam mengembangkan proses pengadaan kearah yang lebih baik. Pengadaan barang/jasa sudah saatnya dipandang sebagai hal yang strategis. Orientasi pada harga hanya akan menjebak kita pada keuntungan jangka pendek yang dibelakang hari kemungkinan besar justru akan menimbulkan biaya yang lebih besar.

Tidaklah berlebihan kiranya kalau dikatakan bahwa salah satu penyebab rendahnya kualitas produk atau layanan yang didapatkan dalam pengadaan akibat kultur harga yang amat sangat kental. Orientasi hanya terhadap bagaimana cara mendapatkan barang/jasa atau cost of acquisition saja. Dan sering lupa dengan biaya operasional kepemilikan atau cost of ownership.

Artikel ini tentu tidak ingin mengatakan bahwa orientasi terhadap harga adalah hal yang selalu salah. Kalau diumpamakan dengan latihan menembak, kita harus cerdas memilih senjata yang tepat untuk target yang sesuai. Janganlah menembak burung dengan meriam, karena meskipun kena tapi burung hancur, jikalau pun luput maka rugi besar.

Memilih metode pengadaan yang tepat untuk jenis dan karakteristik barang/jasa amatlah penting. Saatnya pengadaan barang/jasa pemerintah mengambil pendekatan strategis. Ini kalau kita ingin jauh lebih baik.

About these ads

Satu Tanggapan to “Tawar Menawar ala Eropa versus Kita”

  1. syamsul irfan Juli 19, 2012 pada 4:17 pm #

    mantap tenan euy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.074 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: